Membaca Percakapan Antara Istri Dan Anak Almarhum Siyono, Tak Terasa Air Mata Berlinang

Assalamu’alaikum.

Sepenggal tulisan yang di share Bunda Dwi Estiningsih (Psikolog), di halaman facebooknya pada tanggal 9 April kemarin. Mengenai anak-anak Almarhum Pak Siyono korban kezholiman densus.

Simak selengkapnya dibawah ini :

Hari Kamis kemarin, Bu Fida, istri alm. Siyono menyampaikan bahwa ia telah mengajak kelima anaknya ke makam.

Ia percaya anak-anaknya siap menerima apapun kondisi yang harus dijalani, meskipun Ibrahim dan Hilmi (anak ke-4 & 5) masih sering menanyakan ayahnya, dan Fatimah (anak pertama) masih kelihatan murung.

Hilmi sering bertanya, ”Mi, Abah awah?, Abah awah”? (Mi, Abah ke sawah? Abah ke sawah?) katanya sambil menunjuk arah sawah, meminta Umminya mengantarkan dia ke sawah menjemput Abah.

Ibrahim sering bertanya, “Mi, Abah kok ora mantuk-mantuk, Kapan mantuk Mi?” (Mi, Abah kok nggak pulang-pulang? Kapan pulang Mi?)

Rosyidah dan Isa (anak ke-2 & 3) tampak lebih tegar, sementara sejuta tanya pasti bergelayut di benak Fatimah, si anak sulung, “Mengapa abahku dibunuh?” “Mengapa Abahku yg baik dibilang penjahat sama koran dan TV?” “Mengapa? Mengapa?Mengapa?”

“Saatnya saya bicara sama anak2 Bu,” Kata Bu Fida. Hari Selasa, ia mengajak anak-anaknya ke makam.

Bu Fida bicara pada anak-anaknya di depan makam:
“Anak-anakku, Abah sekarang sudah tidur, sudah tenang, dan sudah bahagia. Jadi anak-anak tidak boleh bersedih.”
“Abah sudah di surga, jadi tidak kembali lagi kesini. Ibrahim dan Hilmi tidak usah lagi menanyakan Abah ya?”

Ibrahim bertanya, “Abah ora mantuk Mi?” (Abah nggak pulang Mi?).
Bu Fida, “Ora Mas, Abah ora mantuk” (Tidak Mas, Abah tdk pulang)

Entah apa kemudian yang dirasakan Ibrahim dan apa yang ada dalam pikiran anak 4 tahun ini, waktu yang akan menjawab.

—————

Demi Allah…Bu Fida (Suratmi) benar-benar Ibu yang cerdas, penuh keyakinan dan iman. Ia bukan psikolog, psikiater atau konselor, namun Ia sudah menjalankan proses trauma healing untuk anak-anaknya, ia mengikis post traumatic syndrome disorder ( ‪#‎PTSD‬ ).

#‎Psikologi‬
1. Ia membantu anak-anaknya menghilangkan bayangan peristiwa traumatis.
2. Ia selalu mengajak anaknya berpikir positif.
3. Ia menghindarkan anaknya dari perasaan tidak berdaya.
4. Ia tidak emosional dan mengajarkan anaknya mengelola emosi.
5. Ia tidak mengisolasi diri meski berduka, Ia ajarkan pula anaknya demikian.
6. Ia membangun harapan masa depan yang cerah bagi anak-anaknya.

Wassalamu’alaikum.

Sumber : facebook Dwi Estiningsih

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s