Kisah Kang Abay Dalam Menemukan Jodoh Membuat Netizen Terpukau

Assalamu’alaikum.

Tanggal 18 Oktober 2015, salah satu penyanyi nasyid dari Bandung yaitu Kang Abay ,lewat akun facebooknya menceritakan kisah cintanya bersama sang istri. Dari postingan tersebut mendapat respon luar biasa dari banyak netizen. Sampai saat ini  mencapai 348 komentar, 7452 like, dan 1606 dibagikan.

kang abay 5Berikut beberapa komentar netizen :

@Yanny Yaa Cuphy
Subhanallah sekali, kisah cinta kang abay dengan istrinya moga jodoh dunia akhirat.

@NurrizmaRizma
Nuhun Kang Inspirasi dan Motifasinya,jadi terharu,Salam tuk Bidadari syurganya ya… 🙂

@Azkiya
MashaaAlloh… ceritanya indah sekali Kang Abay, ingin seprti antum suatu saat nanti, hanya mengharap dan mendapat yg terbaik dari Sang Maha Baik, aamiin…
Semoga menjadi pasangam sehidup sesurga ya, aamiin…

Ternyata hari itu merupakan ulang tahun pernikahan mereka yang ke 7. Sungguh waktu yang tak singkat dalam perjalanan membangun cinta. 🙂 Bagi sahabat yang sudah pernah lihat video klip serial cinta positif karya kang abay di channel youtube Teladan Cinta. Dari video klip Halaqah Cinta, Untukmu Calon Imamku, Mencintai Kehilangan, Jodoh Dunia Akhirat dan Pangeran Surga itulah sederet judul nasyid yang menggambarkan kisah cinta mereka, yang diperankan oleh Anandito Dwis dengan Ghaisani Fildjah Fitri.

Agar sahabat lebih lengkap membaca kisah cinta Kang Abay. HelloHIjabers, mengutip cerita beliau bukan dari facebook tetapi lewat tulisannya dalam sebuah buku yang berjudul “Dream And Pray” karangan Arif Rahman Lubis yang di share oleh AienZova

kang abay dan teh nia

via.facebook.com

Cinta yang Mengubah Duniaku

Saya meyakini bahwa sebuah  pertemuan bisa mengubah hidup seseorang. Apalagi, jika kita dipertemukan dengan orang yang akan menjadi bagian terpenting dalam hidup kita di masa depan. Seseorang yang biasa disebut oleh banyak orang dengan istilah jodoh.

Saat masuk SMA, saya bertekad untuk tidak berpacaran. Kalau harus menyukai seorang gadis, saya harus yakin bahwa ia adalah wanita yang kelak menjadi istri saya, teman hidup saya. Kalau saya belum yakin, saya akan menutup hati rapat-rapat.

Pada hari perrtama masuk SMA, semua murid dikumpulkan di lapangan basket sekolah. Seorang kakak kelas memberi tahu bahwa saya masuk barisan 1-3. Saya pun bergerak menuju barisan yang dimaksud. Wajah-wajah yang saya tidak kenal memenuhi barisan itu. Saya berdiri paling depan membuat saya sulit mengenali wajah-wajah asing dibelakang.

Hingga akhirnya, saat ada kesempatan menoleh ke belakang dan mencoba mengamati teman-teman satu barisan, saya melihat seorang gadis berjilbab panjang yang sangat menarik hati. Keanggunan tergambar dari teduh tatap matanya, keindahan tampak dari seulas senyum simpulnya.
Bergetar hati saya. Itu hanya seperkian detik, tapi cukup membuat  dunia saya seakan berhenti berputar. Matahari yang ada di puncak langit seakan enggan turun ke cakrawala. Awan yang berarak pelan seakan memilih diam di tempatnya. Seumur hidup belum pernah saya merasakan saat-saat seperti itu. Seperkian detik yang hingga kini dan selamanya akan selalu saya kenang.

Saya berhasil melewati hari yang paling berbeda dalam hidup saya itu tanpa banyak masalah. Namun, keesokan harinya, perasaan yang tak biasa tiba-tiba datang. Kadang sangat senang, kadang sangat cemas. Kadang merasa tenang, tapi lebih sering terlihat blingsatan. “ Ya Allah, kok gini ya? Perasaan saya kok jadi aneh ya?” saya bertanya-tanya dalam hati. Celakanya, gadis yang membuat posisi jantung saya seakan tertukar dengan paru-paru itu harus saya lihat lagi. Lagi dan lagi, setiap hari, karena kami ternyata satu kelas.

Nia Agustini nama gadis itu. Setelah perrtemuan pertama di lapangan basket, hati saya sering tiba-tiba bertanya,”Apa dia orangnya?” Pertanyaan yang aneh untuk anak seusia saya waktu itu. Pelan tapi pasti, perilaku saya berubah, tepatnya tidak lagi ‘natural’. Ya. Harus saya akui, entah mengapa saya merasa selalu ingin menarik perhatiannya. Mencuri-curi pandang dan diam-diam memperhatikan. Dan, meski belum kenal, saya caper tetrus-terusan. Ketika masih orientasi siswa baru, saya sebenarnya sudah caper. Berbekal pengalaman jadi vokalis band waktu SMP, saya nyanyi di depan anak-anak satu kelompok, berharap dapat sedikit perhatian dari gadis cantik incaran saya. Tapi sia-sia. Dia sangat cuek.

Mamat Hidayatullah, teman yang pertama saya kenal di kelas kemudian menjadi sahabat yang paling menyenangkan untuk tempat curhat, berkomentar ketika tahu gelagat orang kasmaran dalam diri saya. “ Perempuan yang berjilbab kayak gitu mah sukanya sama anak pinter, soleh, baik. Bukan pokalis ben kayak kamu! Rambut acak-acakan, baju dikeluarkan.”

Kuping saya seperti tersengat lebah hutan. Tapi, itu ada benarnya. Akhirnya saya memutuskan untuk berubah. Saya ingin jadi orang yang lebih baik. Kalau diingat-ingat, mungkin ini yang dibilang motivator-motivator dengan istilah memantaskan diri.

Meski niatnya salah (maklum, waktu itu saya masih terbelakang soal agama), saya mencoba jadi anak yang baik seperti saran sahabat saya itu. Saya pun memberanikan diri untuk mengambil formulir Rohis. Ya, vokalis band ini daftar jadi anak Rohis. Saya masih ingat, waktu saya datang ke ruangan  Rohis, ketuanya kaget bukan main. Angin mana yang membawa saya ‘nyasar’ hingga memilih jadi anak Rohis?! Tapi, pas hari pertama kegiatan Rohis saya ikuti, benar ternyata firasat saya. Gadis incaran saya juga masuk Rohis. Yess!!!

Proses pemantasan diri itu saya jalani dengan penuh semangat. Terbayang di benak saya bisa mengambil hati gadis berjilbab itu. Di kelas, saya jadi anak yang paling aktif bertanya (biar kelihatan pintar), kegiatan Rohis tidak perrnah bolos, bahkan saya suka menginap di rumah ketuanya(biar jadi anak saleh), ngeband tetap jalan, tapi sambil coba-coba berrnasyid ria (biar tetap exis). Pokoknya, waktu itu saya jadi anak ‘ heperaktif’. Padahal, pas SMP saya biasa-biasa saja, sama sekali tidak aktif dalam kegiatan apapun, malah tukang bikin ribut di kelas (ini namanya aktif juga gak ya?).

Tak terasa setelah setahun proses pemantasan diri saya jalani, terjadi perubahan besar yang saya tidak sadari. Saya yang tidak pernah juara kelas jadi rangking satu di kelas, tidak hanya sekali, tapi tiga caturwulan berturut-turut. Malah, kebiasaan juara satu ini keterusan sampai kelas tiga. Saya juga semakin sering terlihat di masjid. Shalat jama’ah slalu saya ikuti, majlis taklim tak pernah ketinggalan . kegiatan apapun yang diadakan Rohis bisa tidak sah kalau tidak saya hadiri (hehee, becanda!).  Meski  begitu, kegiatan saya ngeband tetap berjalan, tapi dengan sedikit penyesuaian.

Saya menikmati semua yang saya lakukan, sambil berharap dia tertarik pada saya. Tapi, dia memang orang super cuek yang pernah saya tahu. Itu membuat saya semakin penasaran. Saya lalu shalat istikharah, dan  hasilnya saya semakin yakin dia memang jodoh saya. Namun anehnya, tak berrselang lama hati saya dilanda ketakutan. Karena merrasa ingin segera memiliki, saya takut terjebak dalam cinta yang salah. Saya sadar, saya harus bisa mengendalikan perrasaan.

Saya sangat bersyukur dengan perubahan yang terjadi dalam diri saya. Saya punya image baru. Saya dikenal sebagai anak yang pintar, aktif berorganisasi, dan vokalis band. Lengkap. Waktu itu, saya sudah bisa menciptakan lagu sendiri dan saya nyanyikan di sekolah. Beberapa lagu bahkan ada yang menyabet  juara dalam perlombaan, meski kebanyakan lagu cinta. Namun, pelan-pelan saya  memutuskan stop main band. Saya ingin fokus mendirikan grup nasyid, karena saya merasa sudah lebih baik dalam memahami ajaran Isalm. Saya mulai mengenal Islam dengan baik, menikmati kedekatan dengan Allah, dan saya pun makin aktif dalam kegiatan Rohis. Puncaknya, saya dicalonkan sebagai ketua Rohis. Celakanya, saya terpilih.

Saat menjadi ketua Rohis, saya semakin dengan kegiatan keislaman. Dan alhamdulillah, saat saya siberi amanah menjadi ketua, Rohis sekolah kami mendapat predikaat Rohis terbaik se-kabupaten.  Itu adalah pertama yang sangat membanggakan bagi Rohis sekolah kami, karena sebelumnya belum pernah kami mendapat predikat semacam itu.

Saat kelas dua, saya pernah memberanikan diri menyampaikan perasaan saya kepada gadis itu. Saya yakin, kalau hanya menyampaikan perasaan sih boleh-boleh saja . saya juga sampaikan bahwa  saya punya niat yang serius dengan maksud itu. Saatnya nanti, saya ingin menikahi dia. Kalau ingat hal itu, saya ingin tertawa sendiri. Anak sekecil itu, berani-beraninya. Memantaskan diri di mata gadis itu sudah saya lakukan. Yang saya lupakan adalah memantaskan diri di hadapan Allah. Astagfirullah.. Di titik kesadaran itu, saya tertunduk malu dan menangis memohon ampunan kepada-Nya.

Waktu berlalu. Tak terasa, sampailah saya di penghujung masa sekolah . alhamdulillah, kami berdua lulus. Saya kembali memberanikan diri untuk berrbicara serius tentang masa depan kepadanya. Sebab, saya  memutuskan untuk kuliyah di Bandung, sedangkan dia di Jakarta. Keputusan kami, kami berdua harus saling mengikhlaskan. Belum saatnya menikah, belum pasti juga kapan saya berani meminang. Dia belum siap menikah, begitu juga saya. Jadi, tidak ada komitmen apapun. Artinya, kami tidak perlu merasa terikat, tidak perlu saling mengunggu. Kalau di Jakarta dia bertemu jodoh dan menikah tidak masalah. Dan, jika saya di Bandung berrtemu gadis lain dan berjodoh juga tidak mengapa. Tak ada komitmen yang harus kami pegang. Benar-benar saling melepaskan.

“Ya Allah, aku sangat yakin bahwa janjiMu adalah benar, bahwa rencana-Mulah yang terbaik. Jika dia jodohku, jaga dia dalam kebaikan, dan perrtemukan kami kembali di waktu yang tepat untuk bersatu. Jika dia bukan jodohku, aku yakin Kau sudah mempersiapkan seseorang yang lebih baik untukku.” Demikian doa saya saat itu. Bagaimanapun, saya tetap mencintai dia. Hanya saja,saya merasa cinta saya lebih tulus dan ikhlas.

Saat masih baru tinggal di Bandung , saya sering membaca doa ini, sambil membersihkan hati dari remah-remah kotoran yang tersisa. Alhamdulillah, beberapa bulan tinggal di Kota Kembang itu, saya sudah nyaman dengan segala aktivitas saya. Tahun kedua dan ketiga kuliyah, saya benar-benar sudah melupakannya. Apalagi, aktivitas saya semakin menumpuk: bisnis kecil-kecilan untuk menutup biaya kuliah, jadi ketua organisasi di Kampus, nyanyi  dan menulis lagu, dan mengajar prestasi  akademik biar dapat beasiswa. Alhamdulillah, semua bisa saya lakukan dengan baik. Saking senangnya dengan Bandung dan aktivitas saya kala itu, pernah saya berfikir mencari calon istri di Bandung saja. Saya memang berniat nikah muda. Jadi, saya mencoba membuka hati pada siapa pun. Bumi  Allah kan luas. Hehee. Kalaupun di masa lalu ada harapan, harapan sudah saya ikhlaskan.

Selama tinggal di Bandung, saya sering meminta  ibu agar didoakan, dimintakan kelancaran dalam semua hal, termasuk urusan jodoh.  Ibu saya ahli tahajud. Saya yakin doa beliau disepertiga malam terakhir didengar oleh Allah.

Suatu hari, di tengah aktivitas saya yang padat, saya menerima SMS dari seseorang : Nia Agustini. Jantung saya seakan melompat keluar! Seseorang  dari masa lalu kembali. Wanita yang pernah saya sangat kagumi itu mengaku menemukan kontak saya melalui friendster (facebook atau twitter belum lahir, ketahuan deh kira-kira umur saya berapa). Kami lalu saling kontak via handphone. Saat itu, saya sudah di penghujung masa kuliah dan kebetulan belum menemukan seseorang yang saya yakini bisa menjadi istri yang saleha. Begitu juga dia, belum menemukan seseoarang yang bisa membuatnya yakin untuk menjalani hidup bersamanya.
Inilah skenario Allah. Hanya Dia yang bisa menjaga hati seperti itu..

Setelah lulus kuliah, saya beranikan diri untuk mengungkapkan kembali niat lama yang pernah saya katakan kepadanya.”Saya ingin kamu menjadi istri saya, ibu dari  anak-anak saya nantinya.” Doa kami terjawab. Kami akhirnya dipersatukan oleh Allah dan menikah pada tanggal 18 Oktober 2008,tepat saat usia 23 tahun. ( Bayu Aditya, Bandung )

Semoga kita mendapat hikmah dari kisah di atas. Kalau cinta dalam ikhlas itu memang ada.Rencana Allah adalah yang terindah. Dan pilihan Allah adalah yang terbaik.

Wassalamu’alaikum.
Advertisements

2 responses to “Kisah Kang Abay Dalam Menemukan Jodoh Membuat Netizen Terpukau

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s