Cerita Dibalik Kesuksesaan Brand KIVITZ

Assalamu’alaikum.

Di tengah hingar-bingar bisnis busana muslim, KIVITZ adalah salah satu merek yang mampu mencuri perhatian. Dengan model pemasaran online dan offline, KIVITZ mempu membukukan omset 300 juta per bulan. Apa keunggulan KIVITZ? Di mata Dwi Sulistyarini, rancangan KIVITZ potongannya pas dan polanya cocok. “Dipakainya nyaman. Saat ini saya berusaha lebih syar’i dalam berpakaian,” ungkap perempuan 34 tahun yang dalam keseharian, kantor ataupun acara pesta memilih busana keluaran KIVITZ.

Syar’i dan stylish. Itulah ciri rancangan KIVITZ. “Kami mengedepankan syari’at Islam,” ungkap Fitri Aulia, pemilik KIVITZ. Dalam merancang, ada lima pakem yang ia berlakukan; hijabnya menutup dada; tidak transparan; tidak ketat atau membentuk tubuh; tidak menyerupai laki-laki (tidak ada produk celana panjang); dan pakai kaus kaki. “Konsep kami seperti itu. Ini idealisme kami,” imbuhnya. Namun, KIVITZ tak ketinggalan dalam hal gaya dengan memberikan sentuhan warna bold, terang, feminin dan elegan.

Selain merek KIVITZ, kelahiran Bogor 11 Mei 1988 ini juga membesut merek yang mengusung namanya sendiri: Fitri Aulia. Kalau KIVITZ lebih ke busana sehari-hari yang membidik pasar menengah dengan rentang usia lebih matang (20-40 tahun), label Fitri Aulia lebih ke pakaian evening gown. “Karena saya orang Aceh, beberapa rancangan saya berikan aksen songket Aceh,” ujar bungsu dari tiga bersaudara yang menggemari jalan-jalan ini.

Cerita Dibalik Kesuksesaan Brand KIVITZ 1

Fitri Aulia membangun KIVITZ bersama suaminya, Mulky Aulia, pada 2011 dengan modal Rp. 4 juta. Dalam sebulan, mereka mampu melempar sekitar 2.500 piece yang disebar ke empat toko offline di Bintaro, Kemang, Bandung dan Pekanbaru, serta untuk konsumen yang memesan secara online. Saat peak season, seperti Idul Fitri, omset bisa meningkat dua-tiga kali lipat dari perolehan pada bulan biasa. Menurutnya, untuk momen Lebaran, penjualan terbesar disumbang lewat online. Pembeliannya juga bisa datang dari mancanegara, sebut saja Malaysia, Hong Kong, Singapura dan Afrika Selatan.

Keberhasilan KIVITZ, menurut Mulky, karena disiapkan sangat matang. Sebelum diluncurkan, sang istri menggarap dunia maya sebagai fashion blogger dan bergabung dengan Hijabers Community (HC). Selama lima bulan, Fitri aktif mengampanyekan slogan syar’i and stylish. Fitri juga meluncurkan buku Inspiring Syar’i & Stylish Hijab. Setelah cukup dikenal sebagai fashion blogger, produk busana muslimah rancangan Fitri pun mulai dipasarkan pada awal 2011. Mereka berbagi peran. Fitri yang alumni Administrasi Niaga FISIP Universitas Indonesia bertanggung jawab atas produksi dan keuangan. Sementara Mulky bertanggung jawab menangani pemasaran karena ia memang gemar soal branding. “Saya hanya membekali diri dengan membaca buku pemasaran,” kata Mulky yang lulusan Desain Komunikasi Visual Universitas Trisakti.

Menurut Mulky, merintis bisnis sejatinya visi baru mereka setelah menikah, “Kami berprinsip tidak mau kerja kantoran. Jadi, kami mesti sukseskan apapun yang akan kami buat,” ujar kelahiran Bukittinggi 6 September 1986 ini. Dipilihnya bidang fashion karena ia melihat istrinya tertarik menekuni bisnis fashion dengan memiliki pengalaman berjualan tas semasa kuliah. Bertepatan dengan momentum HC, Fitri menjadi salah satu yang berperan dalam pembentukan komunitas yang beberapa anggotanya adalah desainer muslimah itu. “Karena belum memiliki kemampuan untuk membuat produk, kami pun melakukan hal yang sifatnya strategis. Kami rencanakan mereknya akan seperti apa,” ucapnya.

Sebagai fashion blogger, Fitri kemudian dibantu Mulky mengisi blog dengan ilustrasi tentang konsep busana muslimah. “Saya yang menggambar,” katanya. Setelah memiliki kamera, ia memasukkan foto-foto Fitri dan kegiatannya. Follower-nya makin bertambah karena banyak yang suka. Lima bulan kemudian, dibuatlah clothing line, KIVITZ. Selama lima bulan itu, mereka bahu-membahu mempersiapkan peluncuran KIVITZ. Ada momen saat berdua naik motor membawa bahan-bahan terkena musibah yang menyebabkan kelingking kaki Fitri patah. “Saat peluncuran produk lewat Facebook, istri saya masih duduk di kursi roda,” cerita Mulky.

Merek KIVITZ kian berpendar saat ditawari untuk dijual di Moshaict. “Dua bulan diluncurkan, kami masuk toko. Tapi kemudian, karena visi yang berbeda, kami keluar. Karena kami punya idealisme, menciptakan tren, bukan mengikuti tren. Baru kemudian kami buka toko bersama dengan teman-teman yang memiliki visi yang sama di Muse 101, fX,” ujar Mulky. Toko berikutnya dibuka di Bintaro, Februari lalu. Menyusul di Pekanbaru dan Bandung lewat model waralaba.

Cerita Dibalik Kesuksesaan Brand KIVITZ 2

Dari awal, mereka sadar bahwa KIVITZ berkembang karena komunitas. Karena itu, kiprahnya di media sosial terus dikelola dengan baik. “Kami punya follower yang kami terus kelola,” kata Mulky. Mereka pun akhirnya merekrut karyawan yang khusus mengelola dan bertanggung jawab untuk melakukan update di media sosial. “Fitri Aulia adalah sosok yang dikenal tanpa media seperti artis melalui televisi, tetapi dikenal melalui media sosial. Jadi, blognya harus selalu aktif. Blog harus konsisten di-upload tiga kali seminggu,” imbuh Mulky.

Untuk keperluan blognya yang juga berperan sebagai iklan berjalan, Mulky melakukan pemotretan sendiri semua kegiatan Fitri. Ia berusaha menyajikan foto-foto dengan hasil kualitas fotografer. “Sekian banyak fashion blogger, bagaimana agar orang berhenti pada blog kami, ya dengan kualitas gambar yang bagus. Cek saja, yang banyak follower-nya adalah yang foto-fotonya bagus,” ujarnya. Selain melalui blog, foto Fitri dengan ragam produk fashion-nya disebar pula lewat Instagram dan Facebook. “Foto yang di-upload pun tidak pernah yang insidental selfi lalu upload, tetapi diedit dulu. Konsistensi inilah yang mungkin menjadi strategi terbesar kami dalam pemasaran,” papar Mulky.

Menurut Fitri, sebagai desainer, ia berupaya terus inovatif dengan menciptakan kreasi dan rancangan yang bisa diterima pasar tanpa menabrak pakem yang sudah digariskan KIVITZ. Untuk menambah wawasan, Fitri kemudian kuliah di LaSalle College.” Supaya dapat pengetahuan baru yang tadinya saya tidak tahu sama sekali,” ungkapnya. Dengan sekolah fashion, ia menemukan hal baru soal tren ataupun biaya produksi. Untuk ide rancangan, ia kerap melihat dari tren dunia, mengacu ke Paris, Milan, New York dan London. “Tetapi kami hijab. Jadi, melihat tren dunia dan mentransfer ke dalam bentuk hijab,” katanya.

Ke depan, Fitri ingin membuka toko di setiap kota, paling tidak di kota besar. Sementara Mulky terus berusaha memperkuat merek KIVITZ. (Kisah Sejoli Melambungkan KIVITZ-SWA Magazine oleh Henni T. Soelaeman dan Rif’atul Mahmudah)

Wassalamu’alaikum

Sumber : KIVITZ Blog

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s